Senin, 18 Juni 2012

PENGARUH KOMUNIKASI INTERPERSONAL ORANG TUA DALAM PERUBAHAN POLA BELAJAR ANAK


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar belakang
Keluarga adalah lingkungan yang terdiri dari  beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah. Pada umumnya keluarga terdiri dari ayah dan ibu sebagai orang tua dan anak.
Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung  jawab di antara individu tersebut.
Dalam keluarga seyogyanya terjadi komunikasi. Komunikasi merupakan proses penyampaian informasi atau pesan dari komunikator kepada komunikan dengan media tertentu dan menimbulkan efek tertentu. Efek yang dihasilkan dalam komunikasi dapat berupa tanggapan maupun umpan balik. Umpan balik yang diberikan anak kepada orang tua cukup beragam, tergantung pada keinginan dan sifat dasar anak. Umpan balik dapat berupa sikap atau sekedar tanggapan sementara.
Sementara itu, komunikator adalah individu yang mengambil prakarsa ataupun sedang melakukan komunikasi dengan individu atau kelompok yang lain. Fungsi komunikator adalah mengatur perasaan dan pikirannya dalam bentuk penyusunan pesan untuk membuat komunikasi.


B.  Rumusan masalah
1.         ciri-ciri belajar apa saja yang ada pada anak?
2.         Macam-macam belajar seperti apa yang terjadi pada anak?
3.         Bagaimana pola belajar pada anak yang efektif?
4.         Bagaimana peran orang tua terhadap pola belajar anak?







BAB II
KAJIAN TEORI

Penegrtian Komunikasi Interpersonal
            Komuniasi interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan  oleh dua orang atau lebih baik langsung maupun tidak langsung untuk mencapai suatu tujuan bersama.

Ada dua indikator yang menentukan kredibilitas komunikator, yakni :
1.      Keahlian, yaitu kesan yang dibentuk komunikan tentang kemampuan komunikator dalam hubungannya dengan topic atau pesan yangdisampaikannya kepada komunikan
2.      Kepercayaan, yaitu tingkat yang menunjukkan sejauh mana seorang sumber dipercaya dan mampu mengkomukasikan pendiriannya tanpa prasangka.
Karakteristik pesan adalah sebagai berikut:
1.      Pesan-pesan / ajakan-ajakan disampaikan kepada masyarakat atau pihak-pihak tertentu harus dapat menstimulir sesuatu pada sasaran
2.      Bahwa pesan-pesan/ajakan-ajakan itu tentunya harus berisi lambang-lambang atau tanda-tanda komunikasi yang sesuai dengan daya tangkap,daya serap dan daya tafsir dari sebagian besar masyarakat atau golongan-golongan tertentu3)
3.      Bahwa pesan-pesan/ajakan-ajakan itu tentunya harus dapat membangkitkan keperluan atau kepentingan tertentu pada sasarannya dan kemudian menyarankan nusaha dan upaya dalam situasi  dan  norma kelompok dimasa sasaran itu berada4)
4.      Bahwa pesan-pesan/ajakan-ajakan itu tentunya harus dapat membangkitkan harapan-harapan tertentu.

Sikap merupakan gejala psikologis, demikin halnya dengan perubahan sikap adalah sebagian gejala psikologis yang secara wajar terjadi dalam kehidupanmanusia.Membahas hubungan antara komunikasi interpersonal terhadap sikap  padahakikatnya juga membicarakan gejala psikologis. Krech (1962:216) dalam pandangannya mengenai pengaruh komunikasi interperson terhadap perubahansikap pada individu, mengatakan sebagai fenomena psikologis dan terjadi dalamdua arah.
1.      Arah yang pertama bersifatincronguent, yaitu perubahan sikap yangmenuju kearah bertentangan dengan sikap semula. Perubahan yang terjadiadalah perubahan dari sikap negative kearah positif, dan begitu sebaliknya
2.      Arah yang kedua bersifat congruent , yaitu perubahan sikap yang sejalan atau tidak bertentangan dengan sikap semula

Teori tentang sikap sebagaimana dikemukakan oleh Allport (dalamAzwar, 1988: 19) menjelasakan bahwa sikap terdiri dari tiga komponen yakni:
1.      Komponen kognitif: berhubungan dengan pengetahuan dan pemahamanseseorang
2.      Komponen afektif: merupakan suatu keadaan yang bersifat emosionaldalam hubungannya dengan objek/situasi tertentu
3.      Komponen konatif: menunjukkan kecenderungan berperilaku yang adadalam diri seorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapi

Prinsip dasar dari komunikasi interpersonal adalah, bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi pasti akan memperoleh pengalaman. Hal inidisebabkan esensi komunikasi interpersonal adalah proses transaksi simbol-simbol. Misalnya, ketika si A berkomunikasi secara interpersonal dengan si Bmaka keduanya akan memperoleh pengalamn baru yang disebab kan oleh adanya stimuli simbol yang di transaksikan

Berbagai pendekatan mencapai perubahan yaitu:
1.      Informative
Pendekatan informative pada hakikatnya komunikasi hanyamenyampaikan informasi kepada komunikan.
2.      Dialogis
Ciri komunikasi interpersonal dengan pendekatan dialogis adalahterjadinya percakapan atau dialog, menuju proses sebagai informasi.
3.      Persuasive
Proses dimana seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan untuk mempengaruhi, mengubah pandangan, sikap dan perilaku oranglain/kelompok orang (komunikan) dengan cara halus yaitu membujuk 
4.      Instruktif 
Pendekatan ini dinamakan pula koersif. Pendekatan instuktif atau koersif menekankan pada memposisikan komunikator dalam posisi tawar yangtinngi, dimana dia dapat legitimasi untuk memerintahkan, mengajarkan, dan bahkan menyatakan ide kepada komunikan.



BAB III
STUDI KASUS

Pada saat seorang manusia menjadi anak-anak, maka orang tua menjadi komunikator yang paling dekat. Anak sekedar menerima atau meniru apa yang dilihat dari orang tuanya.
Demikian halnya dalam hal belajar. Belajar merupakan suatu usaha yang disengaja untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik.
Dalam hal ini cara orang tua dalam mengajari anak lah yang paling berperan dalam membentuk karakter anak dalam belajar. Di antara ciri-ciri belajar adalah:
1.      Adanya kesadaran perubahan kecakapan pada dirinya
2.      Belajar bersifat komprehensif atau terus menerus
3.      Terjadi perubahan positif
4.      Perubahan terjadi secara kontinyu
5.      Perubahan bersifat terarah
6.      Perubahan terjadi di banyak segi
Aktifitas belajar bermacam-macam, seperti: mendengar, melihat, mencatat, membaca, mengingat, dan mempraktikan. Aktifitas inilah yang kemudian berubah setiap waktu seiring dengan perkembangan usia anak. Orang tua harus memahami fase-fase usia anak terhadap model aktifitas yang tepat.

Macam-macam cara belajar pada anak antara lain:
1.      Visual (belajar dengan cara melihat)
Metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak atau di titik beratkan pada peragaan atau media agar siswa dapat menggambarkannya dipapan tulis. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pekajaran. Mereka cenderung duduk didepan atau melihat dengan jelas. Mereka berfikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tamilan-tampilan visual seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas anak visual lebih suka mencatat sampai detail untuk mendapatkan informasi.
Ciri-ciri belajar Visual:
a.       Bicara agak cepat
b.      Mengingat yang dilihat dari pada yang didengar
c.       Tidak mudah terganngu oleh keributan
2.      Auditori (belajar dengan cara mendengar)
Metode ini mengandalkan kesuksesan belajar melalui telinga (alat pendengaran), untuk itu guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga ke alat pendengarannya. Anak dengan gaya ini lebih cepat belajar dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Informasi yang tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori. Anak seperti ini biasanya menghafal lebih cepat dengna membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.
Ciri-ciri belajar Auditori:
a.       Mudah terganggu oleh keributan
b.      Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan dibuku ketika membaca
c.       Lebih pandai mengeca lebih keras dari pada menulisnya
3.      Kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan mnyentuh)
Cara belajra ini cenderung aktif , anak sulit untuk duduk berdiam berjam-jam dan hanya mendengarkan, mereka cenderung aktif dalam mendengaekan pelajaran seperti melakukan gerakan atau sentuhan.
Ciri-ciri belajar Knestetik:
a.       Berbicara perlahan
b.      Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
c.       Menghafal dengan cara berjalan dan melihat

Pada umumnya pola belajar anak di rumah, usai dari sekolah adalah: mempelajari apa yang akan diberikan esok hari; membuat PR untuk esok hari. Pola belajar ini disebut reaktif, artinya anak bereaksi atas apa yang diberikan guru. Pola belajar ini sekadar memenuhi apa yang ditugaskan guru. Ini adalah pola yang mengesankan "sekolah adalah kepentingan guru" (dan mungkin juga kepentingan orang tua). Pola demikian dapat menyebabkan kesukaan belajar jadi pupus. Belajar adalah kewajiban, belajar adalah beban. Pola ini mengumpulkan daya kreativitas, karena hanya sebatas "menyelesaikan apa yang ditugaskan kepadanya"; anak menjadi budak proses belajar.
Metode yang dapat membantu anak menjadi kreatif ialah dengan mengubah pola belajar sebagai berikut :
1.      Buatlah belajar sebagai suatu tantangan bagi anak. Belajar adalah kepentingan saya, bukan kepentingan guru atau ortu. Kalau saya belajar, itu bukan karena saya ditugaskan dan diwajibkan, melainkan karena saya suka itu. Anak menjadi pemilik/majikan proses belajar.
2.      Mulailah dengan mengubah pola belajar di rumah. Pola belajar ini disebut pola belajar yang proaktif.
Ketika anak pulang dari sekolah, ajaklah, dan biasakanlah ia "meresume" apa pun yang didapatkan hari itu di sekolah. Meresume artinya mempelajari ulang, lalu menuliskan secara singkat dengan bahasanya sendiri, sedemikian sehingga minggu depan, manakala mata pelajaran itu hendak diberikan lagi, atau menjelang ujian atau ulangan harian, anak cukup dengan membaca resume yang ia buat sendiri.
Macam-macam pola belajar
1.      Pola belajar reaktif, pola belajar ini tidak memicu kreativitas sebab proses memori hanya menempuh setengah jalan: apa yang diberikan guru ia usahakan masuk ke dalam memori. Dengan kata lain, anak hanya menempuh satu jalan: hanya pergi, hanya menerima ilmu dari luar, tanpa mengamalkannya.
2.      Pola belajar proaktif, pola belajar ini memicu anak menjadi kreatif sebab proses memori menempuh satu jalan penuhapa yang diberikan guru, anak menuliskan ulang dalam bentuk resumenya; dan inilah yang melatih anak menjadi kreatif. Dengan kata lain, proses memori menempuh jalan "pergi-pulang" merupakan sebuah siklus yang utuh. Pergi: anak menerima ilmu dari luar, pulang: anak mengeluarkan kemampuannya untuk membuat resumenya. Ini adalah bentuk "mengamalkan".
Pola proaktif yang memicu kreativitas ini bisa dilakukan bukan hanya pada pola belajar, melainkan juga dalam proses membaca: setiap kali membaca, kita membiasakan membuat resume atas isi bacaan. Setiap kali kita nonton TV, kita membuat resume atas isi sajian TV. Polanya satu jalan penuh, atau dua jalan: pergi-pulang.
Meresume bukan menulis ulang seluruh bacaan atau seluruh sajian TV, melainkan menuliskan ringkasannya saja, dalam 4-6 kalimat saja. Justru membuat ringkasan inilah yang melatih kita menjadi kreatif, sebab ternyata meringkas sebuah bacaan untuk hanya menjadi 4-6 kalimat membutuhkan daya kreativitas tinggi

Pola Belajar Yang Efektif Pada Anak :

1.        Mencatat pokok-pokok pelajaran
            Ambil intisari atau kesimpulan dari setiap pelajaran yang sudah dibaca ulang. Kata-kata kunci inilah yang nanti berguna waktu kita mengulang pelajaran selama ujian.

2.      Hapalkan kata-kata kunci
            Buatlah kata-kata kunci dari setiap hapalan, supaya mudah diingat pada saat otak kita mulai berfikir.

3.       Pilih waktu belajar yang tepat
            Waktu belajar yang paling enak adalah pada saaat badan kita masih segar. Pagi hari adalah waktu yang tepat untuk berkonsentrasi penuh. Gunakan saat ini untuk mengolah materi-materi baru. Sisa-sisa energi bisa digunakan untuk mengulang pelajaran dan mengerjakan pekerjaan rumah.

4.       Bangun suasana belajar yang nyaman
            Disini yang dimaksudkan adalah kondisi tempat dan ruangan. Kadang dengan mendengarkan musik suasana belajar menjad terbangun.

5.      Bentuk Kelompok Belajar
            Kegiatan ini berguna untuk keefektifan belajar. Dengan metode ini anak menjadi bisa berkomunikasi satu sama lain dan saling melakukan hubungan timbal balik dalam berpendapat.
6.      Kembangkan materi yang sudah dipelajari

            Membaca materi yang sudah ada dan mencari sumber-sumber lagi untuk memperdalam materi yang sdah didapat. Dan menembangkan materi denga melakukan tanya jawab dengan teman dan guru.

7.       Sediakan waktu untuk istirahat
            Metode ini adalah untuk melemaskan badan dan pikiran saat sudah terforsir banyak belajar. Jeda yang baik untuk beristirahat antara 30-45 menit. Istirahat berguna untuk menyegarkan badan dan fikiran.

Peran orang tua terhadap pola belajar anak

Orang tua juga memiliki peran penting dalam mendukung pola belajar anak. Tak bisa hanya menuntut anak berprestasi, tanpa memberikan dukungan yang bisa memotivasi anak, terutama saat belajar. Tindakan yang perlu dilakukan oran gtua antara lain:

1.       Kunjungi sekolah dan berinteraksilah dengan gurunya untuk mengetahui perkembangan studi anak.
2.      Selalu berbicara secara terbuka dengan anak, jangan membuat jarak. Buatlah mereka merasa nyaman untuk berbagi masalah dengan Anda. Jangan terlalu menyalahkan anak jika mereka memiliki kekurangan dalam studi atau tidak memenuhi harapan Anda. Lebih baik membangun kepercayaan dirinya. 
3.      Bantu anak dalam membuat jadwal belajar mereka, disertai komitmen bersama. Biarkan anak menentukan jadwal belajar yang nyaman untuknya.
4.      Bicaralah dengan anak dan cobalah membuat mereka sadar akan pentingnya belajar, serta menjaga cara belajar mereka.
5.      Izinkan mereka juga untuk tetap memiliki waktu bermain, menonton TV, serta mengizinkan mereka mengikuti kegiatan ekstrakulikuler di sekolah. Ini akan menumbuhkan perkembangan kepribadian anak Anda.
6.      Perhatikan jenis makanan yang Anda berikan kepada anak saat mereka tengah menghadapi ujian. Hal ini akan berpengaruh pada fisik dan tingkat konsentrasi mereka. Hindari makanan seperti kentang atau tapioka, makanan pedas, gorengan yang mengandung asam lemak. Sebaliknya, berikan susu, madu, cokelat yang mengandung kokoa di dalamnya, dan makanan sehat lainnya.Jangan lupa mengatur pola tidur mereka, minimal 6jam di malam hari.
7.      Saat anak akan berangkat ke sekolah untuk menghadapi ujian, buatlah mereka merasa senang.



BAB VI
KESIMPULAN

            Berdasar dari uraian-uraian terdahulu, maka dapat dirumuskan suatu kesimpulan bahwa; keberhasilan anak dalam meningkatkan prestasi belajar serta dalam menanggulangi kesulitan belajarnya, tidaklah terlepas dari peranan orang tua serta guru dalam proses pendidikannya.
            Peran orang tua sangatlah penting dalam membentuk pola belajar pada anak, umumnya orang tua harus memberikan perhatian kepada anak-anaknya. Misalnya saja setelah pulang sekolah tanyakan apa yang telah didapat selama di sekolah. Dengan menanyakan hal tersebut maka anak akan merasa bahwa ia diperhatiakan oleh orang tuanya. Dengan begitu maka kedekatan antara orang tua akan membuat anak merasa terbuka terhadap orang tuanya.


DAFTAR PUSTAKA

Suranto. 2010. Komunikasi interpeersonal. Yogayakarta : Graha Ilmu.
www.artikerbagus.com/2011/04/peranan-orang-tua-dalam-mengatasi.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar